Pengertian
Iman kepada Allah SWT.
Iman
menurut bahasa artinya percaya atau yakin terhadap sesuatu. Iman menurut
istilah adalah pengakuan di dalam hati, diucapkan dengan lisan dan dikerjakan
dengan anggota badan. Hal ini sesuai Hadist Nabi Muhammad SAW yang berbunyi :
اَلإِيْمَانُ بِاللهِ اِقْرَارٌ بِالِلّسَانِ وَ تَصْدِيْقٌ بِالقَلْبِ وَعَمَلٌ بِالاَرْكاَنِ
Artinya : “Iman adalah pengakuan dengan hati, pengucapan dengan lisan, dan pengamalan dengan anggota badan.”(HR Thabrani)
Jadi dapat disimpulkan bahwa pengertian iman kepada Allah adalah membenarkan dengan hati bahwa Allah itu benar-benar ada dengan segala sifat keagungan dan kesempurnaanNya, kemudian pengakuan itu diikrarkan dengan lisan, serta dibuktikan dengan amal perbuatan secara nyata. Oleh karena itu, apabila ada seseorang yang mengaku beriman kepada Allah SWT hanya dalam hati, lisan, hati dan lisan atau anggota badan saja, maka orang tersebut belum bisa dikatakan orang yang beriman.
اَلإِيْمَانُ بِاللهِ اِقْرَارٌ بِالِلّسَانِ وَ تَصْدِيْقٌ بِالقَلْبِ وَعَمَلٌ بِالاَرْكاَنِ
Artinya : “Iman adalah pengakuan dengan hati, pengucapan dengan lisan, dan pengamalan dengan anggota badan.”(HR Thabrani)
Jadi dapat disimpulkan bahwa pengertian iman kepada Allah adalah membenarkan dengan hati bahwa Allah itu benar-benar ada dengan segala sifat keagungan dan kesempurnaanNya, kemudian pengakuan itu diikrarkan dengan lisan, serta dibuktikan dengan amal perbuatan secara nyata. Oleh karena itu, apabila ada seseorang yang mengaku beriman kepada Allah SWT hanya dalam hati, lisan, hati dan lisan atau anggota badan saja, maka orang tersebut belum bisa dikatakan orang yang beriman.
Iman
kepada Allah merupakan suatu keyakinan yang sangat mendasar. Tanpa adanya iman
kepada Allah SWT, seorang tidak akan beriman kepada yang lain, seperti beriman
kepada malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul Allah dan hari kiamat.
Firman Allah SWT :
Firman Allah SWT :
“Wahai orang-orang yang
beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab Allah
yang diturunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab Allah yang diturunkan sebelumnya,
Barang siapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya,
kitab-kitab-Nya,Rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian maka sesungguhnya orang itu
telah sesat sejauh-jauhnya.” (QS.An Nisa : 136).
Ayat
di atas memberikan penjelasan bahwa Bila kita ingkar kepada Allah, maka akan
mengalami kesesatan yang nyata. Orang yang sesat tidak akan merasakan
kebahagiaan dalam hidup. Oleh karena itu, beriman kepada Allah sesungguhnya
adalah untuk kebaikan manusia.
memperkokoh keimanan
pada allah
Iman kepada Allah merupakan rukun iman yang pertama. Rukun
ini sangat penting kedudukannya dalam Islam. Sehingga wajib bagi kita untuk
mengilmuinya dengan benar supaya membuahkan akidah yang benar pula tentang
Allah Ta’ala. Dengan memohon pertolongan Allah kami mencoba mengulas
permasalah pokok tentang rukun iman yang pertama ini. Semoga ulasan berikut
dapat memperkokoh iman kita kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
makna iman kepada allah
makna iman kepada allah
Iman kepada Allah merupakan asas dan pokok dari keimanan, yakni keyakinan yang pasti bahwa Allah adalah Rabb dan pemilik segala sesuatu, Dialah satu-satunya pencipta, pengatur segala sesuatu, dan Dialah satu-satunya yang berhak disembah, tidak ada sekutu bagi-Nya. Semua sesembahan selain Dia adalah sesembahan yang batil, dan beribadah kepada selain-Nya adalah kebatilan. Allah Ta’ala berfirman,
ذَلِكَ بِأَنَّ اللهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَايَدْعُونَ مِن دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ
“(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Al Hajj: 62)
Para ulama syara' mengartikan, bahwa iman dan Islam
memiliki hakikat makna yang satu dengan mengajukan satu dalil dari firman Allah
SWT.
"Lalu Kami keluarkann orang-orang beriman yang
berada di negeri (kaum Luth) itu dan Kami tidak mendapati di negeri itu,
kecuali (penghuni) sebuah rumah yang terdiri dari orang-orang muslimin."
(Adz Dzariyat 35-36)
Sedang para ahli tasawuf mengartikan iman sebagaimana
contoh yang diambil dari ayat tersebut di atas adalah pada umat (kaum) Nabi
Luth as., maka persoalannya sesuai dengan apa yang dikatakan oleh imam Syafi'i
ra.: "Barangsiapa memakai ajaran Islam secara umum dan khusus, maka setiap
orang Mukmin adalah Muslim dan belum tentu setiap orang Muslim atau Mukmin."
Mereka mengambil dalil dari firman Allah SWT. :
"Orang-orang
Arab Badui itu berkata: Kami telah beriman. Katakanlah (kepada mereka): Kamu
belum beriman, tetapi ucapkan bahwa kami telah Islam, karena iman itu belum
masuk ke dalam hatimu." (Al Hujurat 14)
Dialah Allah yang disifati dengan sifat yang sempurna dan mulia,
tersucikan dari segala kekurangan dan cacat. Ini merupakan perwujudan
tauhid yang tiga, yatu tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah, dan tauhdi asma’ wa
shifat. Keimanan kepada Allah mengandung tiga macam tauhid
ini, karena makna iman kepada Allah adalah keyakinan yang pasti tentang keesaan
Allah Ta’ala dalam rububiyah, uluhiyah, dan seluruh nama dan sifat-Nya. (Al Irysaad ilaa shahiihil I’tiqaad,
Syaikh Sholeh al Fauzan).
Cakupan Iman Kepada Allah
Iman kepada Allah mencakup empat perkara :
Iman kepada Allah mencakup empat perkara :
1.
Iman tentang keberadaan (wujud) Allah.
2.
Iman tentang keesaan Allah dalam rubuiyah
3.
Iman tentang keesaan Allah dalam uluhiyah
4.
Iman terhadap asma’ (nama) dan sifat-Nya.
Keimanan yang benar harus mencakup empat hal di atas. Barangsiapa yang tidak
beriman kepada salah satu saja maka dia bukan seorang mukmin.
Semoga bermanfaat. Aamiin.






